Sanggau dan Arongk Belopa yang jadi Ikon Kota

Arongk Belopa - tempat melepas lelah orang Sanggau.

Sanggau punya tempat melepas lelah. Suatu tempat bagi siapa saja warga, terutama musafir, yang lelah berjalan dan berkendaraan, beristirahat.

Lalu dapat menikmati pemandangan indah dalam kota. Sembari mengecap kuliner khas Sanggau, kue-kue, lemang, kopi, teh, serta aneka kuliner setempat.

Arongk Belopa

Terlepas dari akurasi penulisan nama tempat rekreasi pusat kota di Jalan A. Yani Sangagau ini, yaitu "Arongk Belopa" yang akurasinya semestinya "Arokng Bolopa", kita patut berterima kasih kepada Pemkab Sanggau sebelum ini. Yang berupaya, sedemikian rupa, menata kota Sanggau menjadi indah. Sebelumnya, lokus ini tidak teratur. Rawa-rawa. Banyak pondok dan bangunan sembarangan saja. Terkesan kumum.

Penampakan tempat melepas lelah Sanggau nan indah dan nyaman.

Namun, dengan dibangunnya Arokng Bolopa, semua jadi serba-indah. Dan Bumi Daratante yang menjadi lintasan dan penghubung jalan utama di wilayah timur Kalimantan Barat, menjadi tempat singgah. 

Di belakang Arokng Bolopa, ada terminal yang ramai bagi pertemuan para pelintas. Sekaligus menambah pendapatan asli daerah (PAD) dengan berbagai belanda yang dilakukan para pengunjung dan pelintas.

Karena dilintasi jalan raya utama, Arokng Bolopa mudah dicapai, bahkan tanpa sengaja dan rencana. Mengingat lokusnya yang strategis, Arokng Bolopa akan menjadi titik-kumpul, bukan hanya lokus pelepas lelah dan memuaskan rasa lapar dan dagaha. 

Arokng Bolopa juga akan menjadi public sphere.

Asal usul "Sanggau"

Sanggau adalah nama sebuah kabupaten di Kalimantan Barat yang berlokasi dekat dengan Kota Pontianak. Sebelum menjadi kabupaten, wilayah Sanggau merupakan tempat berdirinya sebuah kerajaan Melayu sejak abad ke-4 Masehi. Nama "Sanggau" berasal dari tanaman yang tumbuh di tepi Sungai Sekayam, tempat berdirinya kerajaan tersebut. 

Menurut buku Sejarah Hukum Adat dan Adat Istiadat Kalimantan Barat karya J.U. Lontaan, Sungai Sekayam merupakan tempat berlabuhnya rombongan yang dipimpin oleh Dara Nante, seorang perempuan ningrat dari Kerajaan Sukadana, Ketapang, saat mencari suaminya yang bernama Babai Cinga. Namun, ada juga pendapat lain yang menyatakan bahwa nama "Sanggau" berasal dari suku Dayak Sanggau, sebuah klan suku Dayak yang merupakan asal dari Baba Cinga.

Sejarah Sanggau selintas

Wilayah Kerajaan/Kesultanan Sanggau pada masa lalu tidak terlalu berbeda dengan wilayah Kabupaten Sanggau saat ini di Provinsi Kalimantan Barat. Ini terlihat dari pembentukan Kabupaten Sanggau yang mengambil referensi dari wilayah Swapraja Sanggau, yang merupakan kelanjutan dari Kerajaan/Kesultanan Sanggau dahulu. Kabupaten Sanggau terletak di bagian tengah dan utara Kalimantan Barat. 

Di bagian utara, Sanggau berbatasan dengan Serawak (Malaysia), sementara di sebelah selatan berbatasan dengan Kabupaten Ketapang, di sebelah barat dengan Kabupaten Landak, dan di sebelah timur dengan Kabupaten Sintang dan Kabupaten Sekadau.

Pada tahun 2003, Kabupaten Sanggau mengalami pembagian wilayah menjadi 15 kecamatan dari sebelumnya 22 kecamatan. Pasca pemekaran, total desa dan kelurahan di Kabupaten Sanggau mencapai 165.

Jumlah penduduk Kabupaten Sanggau pada paruh kedua tahun 2021 adalah 489.605 orang, menurut data resmi dari Direktorat Jenderal Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kementerian Dalam Negeri. Kabupaten ini memiliki luas wilayah 12.857,70 km2, yang setara dengan 8,76% dari total luas wilayah Provinsi Kalimantan Barat. 

Dari total populasi tersebut, 254.090 adalah laki-laki dan 235.515 adalah perempuan, tersebar di 15 Kecamatan.

-- Rangkaya Bada


LihatTutupKomentar