Energi untuk Hari Ini dan Generasi Esok
| Energi yang tersedia hari ini, jangan dihabiskan hari ini. Cadangkan untuk generasi yang akan datang. Ilustrasi: Istimewa. |
Oleh Masri Sareb Putra
Energi adalah denyut nadi peradaban. Tanpa energi, lampu kota padam, pabrik berhenti, dapur rakyat menjadi dingin, dan mimpi tentang kemajuan hanya tinggal slogan. Indonesia dianugerahi energi yang berlimpah.
Batu bara, minyak dan gas, air yang mengalir dari pegunungan, panas bumi yang bergejolak di perut bumi, matahari yang setia menyinari sepanjang tahun, hingga angin yang berhembus dari pesisir ke pesisir. Semua itu adalah karunia. Tetapi setiap karunia selalu datang bersama tanggung jawab.
Baca Energi dalam Manusia dan Makhluk Hidup
Masalahnya bukan semata ketersediaan. Masalahnya adalah cara pandang. Kita sering memperlakukan energi seolah ia tak pernah habis. Kita menambangnya dengan rakus. Kita membakarnya tanpa rasa bersalah.
Kita mengonsumsinya seakan hari esok tidak pernah ada. Dalam logika semacam itu, energi hanya dilihat sebagai komoditas ekonomi. Ia diukur dalam barel, ton, dan megawatt. Jarang sekali ia dipandang sebagai titipan sejarah.
Di sinilah letak persoalan etis yang jarang dibicarakan. Energi yang tersedia hari ini bukan hanya milik kita. Ia adalah pinjaman dari masa depan.
Baca Energi Bangsa Indonesia Harus Diarahkan pada Kebaikan, Jangan pada yang Lain
Setiap liter minyak yang dihabiskan, setiap hektar hutan yang dikorbankan, setiap sungai yang tercemar oleh pembangkit yang salah kelola, sesungguhnya adalah pengurangan hak generasi yang belum lahir. Kita hidup hari ini, tetapi kita tidak hidup sendirian dalam waktu.
Dalam gaya bertutur yang tenang, penulis mungkin akan mengingatkan bahwa kerakusan sering menyamar sebagai kebutuhan.
Kita berkata demi pembangunan, demi pertumbuhan, demi kesejahteraan. Tetapi di balik kata-kata besar itu, tersembunyi kebiasaan lama.
Baca Mengapa Perlu Bergaul dengan Orang Positif
Mengambil sebanyak mungkin. Secepat mungkin. Sebelum orang lain mengambilnya lebih dulu. Padahal energi, seperti iman dan keadilan, menuntut kebijaksanaan, bukan sekadar kecerdikan.
Cadangan Energi untuk Generasi Esok, Soal Moral Publik
Mencadangkan energi bukan sekadar kebijakan teknis. Ia adalah soal moral publik. Ketika kita menolak transisi energi bersih dengan alasan mahal, sesungguhnya kita sedang memindahkan biaya itu ke pundak anak cucu.
Ketika kita mempertahankan ketergantungan pada energi fosil karena dianggap praktis dan cepat, kita sedang menunda krisis yang kelak akan meledak dengan daya rusak yang lebih besar.
Di titik ini, bahasa etika menjadi penting. Jangan egois. Itu dosa. Bukan dosa dalam pengertian sempit yang hanya dibicarakan di mimbar. Tetapi dosa sosial. Dosa struktural. Dosa yang lahir dari sistem yang membiarkan segelintir orang menikmati keuntungan hari ini, sementara jutaan orang di masa depan menanggung akibatnya.
Energi terbarukan sering dipromosikan sebagai solusi teknologis. Panel surya. Turbin angin. Pembangkit mikrohidro. Panas bumi. Semua itu penting. Tetapi yang lebih mendasar adalah perubahan cara berpikir. Dari mentalitas habiskan, menuju mentalitas rawat dan cadangkan. Dari logika eksploitasi, menuju logika keberlanjutan.
Bangsa yang besar bukan bangsa yang menghabiskan warisan leluhurnya dalam satu generasi. Bangsa yang besar adalah bangsa yang tahu kapan harus menahan diri.
Dalam kearifan lokal banyak komunitas di Nusantara, termasuk di Borneo, dikenal prinsip mengambil secukupnya dari alam. Hutan tidak ditebang habis. Sungai tidak diracuni. Alam diperlakukan sebagai mitra hidup, bukan objek mati.
Nilai-nilai itu kini terasa kuno di hadapan mesin-mesin raksasa industri energi. Tetapi justru di situlah relevansinya. Teknologi modern tanpa etika hanya akan mempercepat kehancuran. Sebaliknya, etika tanpa keberanian politik hanya akan menjadi nostalgia.
Political Will dan Political Do dalam Tata Kelola Energi
Bagaimana bangsa Indonesia mengelola energi, pada akhirnya sangat ditentukan oleh political will dan political do. Kehendak politik tanpa tindakan hanyalah pidato.
Tindakan tanpa kehendak politik yang jujur sering berujung pada kebijakan setengah hati. Energi adalah sektor strategis. Ia menyentuh kepentingan ekonomi, kekuasaan, dan geopolitik. Karena itu, keberanian pemimpin diuji paling keras di sini.
Baca Galeri Energi : Portal Digital yang Membangkitkan Semangat dan Inspirasi
Kita sudah lama mendengar wacana transisi energi. Dokumen disusun. Target ditetapkan. Roadmap dipamerkan. Tetapi realitas di lapangan sering berjalan lambat. Subsidi energi fosil tetap besar. Investasi energi bersih tersendat.
Regulasi berubah-ubah. Kepentingan jangka pendek lebih sering menang daripada visi jangka panjang.
Di sinilah politik energi menampakkan wajahnya. Apakah energi dikelola untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat, atau untuk memperkaya segelintir elite? Apakah kebijakan energi berangkat dari keberpihakan pada generasi mendatang, atau dari kalkulasi elektoral lima tahunan?
Apakah para pemimpin sungguh mencintai rakyatnya, atau hanya mencintai kekuasaan yang diberi rakyat? Cinta sejati selalu berpikir jauh ke depan. Ia rela berkorban hari ini demi kebahagiaan esok. Dalam konteks energi, cinta itu terwujud dalam keputusan yang tidak populer tetapi perlu.
Political do menuntut konsistensi. Menuntut keteguhan melawan tekanan oligarki. Menuntut keberanian berkata cukup pada eksploitasi berlebihan. Tanpa itu, transisi energi hanya akan menjadi jargon indah di atas kertas.
Menuju Bangsa yang Good, Better, Best
Mengelola energi dengan bijak adalah jalan panjang menuju bangsa yang good, better, dan akhirnya best.
Good berarti adil. Energi harus dapat diakses oleh seluruh rakyat, bukan hanya oleh kota-kota besar dan kawasan industri.
Better berarti berkelanjutan. Pembangunan energi tidak boleh merusak fondasi ekologis yang menopangnya.
Best berarti visioner. Berani melampaui kepentingan hari ini demi martabat bangsa di masa depan.
Bangsa yang best bukan bangsa yang paling cepat menghabiskan sumber dayanya. Tetapi bangsa yang paling cerdas merawatnya. Di sinilah energi menjadi cermin kualitas kepemimpinan nasional.
Dari cara kita menyalakan lampu, menggerakkan mesin, hingga menentukan arah kebijakan, semuanya memantulkan nilai-nilai yang kita anut.
Energi yang tersedia hari ini, jangan dihabiskan hari ini. Cadangkan untuk generasi yang akan datang. Jangan egois. Itu dosa. Dan kepada para pemimpin bangsa, sejarah akan bertanya.
Apakah para pemimpin memilih jalan mudah yang singkat, atau jalan benar yang panjang?
Dari jawaban itulah, Indonesia akan dikenal. Sebagai bangsa yang baik. Yang lebih baik. Atau yang terbaik.
Jakarta, 30 Januari 2026